Bordir Icik Diminta Dilestarikan

UMK – Kabupaten Kudus memiliki "bordir icik" khas yang sudah cukup dikenal. Hanya saja, belakangan perkembangannya kian suram. Selain minimnya regenerasi, juga tersaingi oleh bordir ijuk dan komputer.

Kepala Lembaga Penelitian (Lemlit) Universitas Muria Kudus (UMK), DR Mamik Indaryani MS, berharap berbagai pihak, khususnya pemerintah kabupaten, memperhatikan potensi yang dimiliki dan menjaganya agar tidak punah.

‘’Bordir icik ini harus dihidupkan, karena hampir punah. Saat ini yang banyak dijual di pasaran yaitu bordir ijuk dan komputer yang bisa diproduksi secara massal,’’ ujar Doktor dari Program Studi Pembangunan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) tersebut.

Mamik menjelaskan, bordir icik, dibanding bordir ijuk dan konveksi, sebenarnya lebih memiliki nilai jual yang sangat tinggi. ‘’Bordir icik ini tidak sekadar bernilai secara ekonomi, karena ini merupakan produk budaya,’’ katanya.

Selain produk budaya, bordir icik juga memiliki peluang yang besar untuk diekspor. ‘’Kalau kita ekspor bordir ijuk dan komputer, pasti kalah dengn China, Taiwan, Thailand,  maupun Malaysia karena secara SDM dan teknologi mereka lebih baik.’’

Dia mengutarakan, besarnya peluang bersaing melalui produk bordir icik daripada ijuk dan komputer, juga karena faktor seseorang lebih bisa menghargai produk yang memiliki nilai budaya.

 

‘’Produk bordir ijuk atau komputer itu bisa didapat dengan mudah, karena merupakan produksi massal. Berbeda dengan bordir icik. Bordir icik ini produk eksklusif di satu sisi, dan memiliki nilai budaya di sisi yang lain,’’ terangnya.

Untuk itu, Mamik berharap agar berbagai elemen masyarakat, khususnya pemerintah, bisa memperhatikan keberlangsungan bordir khas Kudus. ‘’Semoga, ke depan banyak generasi muda yang bisa memahami peluang ini dan mau mengembangkan lagi bordir icik ini,’’ tuturnya. (Eros-Portal).